Suara

Suara saja bisa menipu ya.

Pertama kali tertipu suara, waktu sedang booming serial radio Brama Kumbara. Wah, stasiun radio yang menayangkannya, bisa penuh slot iklannya waktu menayangkan serial ini. Pengisi suaranya, juga mendapat berkah jadi terkenal, dan diundang kemana-mana.

Pendengar wanitanya pastilah membayangkan sosok Brama sebagai tokoh yang gagah, berotot, dan ganteng. Pantas banyak yang suka, pantas jadi jagoan. Lalu tibalah saat sang bintang serial temu penggemar, dan muncullah celetukan, ‘Kok Bramanya kaya gitu?’ Pokoknya…jauh lah dari bayangan. Tambah parah waktu masuk ke bioskop, dan diminta memerankan tokoh yang biasanya hanya perlu suaranya saja. Sekarang perlu penampilan dan tentu aksi laganya. Tidak seperti serial radionya, film bioskopnya tidak begitu heboh.

Ada juga sih yang sesuai bayangan, misalnya di serial radio Ibuku Sayang Ibuku Malang. Yang jadi Ibu memang punya wajah keibuan dan meneduhkan, perssis seperti perannya. Untung sempat dimunculkan di rubrik Sosok di Kompas, jadi saya sempat tahu wajahnya.

Kebanyakan memang tak sesuai bayangan. Berikutnya beberapa penyiar radio, yang suaranya empuk dan membawakan acara anak muda, saya bayangkan ya keren abis, cakep abis, dan abis-abisan lainnya. Lalu saking ngefansnya, sampai kirim surat minta foto. Jaman dulu sih pada baik-baik, dikirimnya selembar foto lengkap dengan tanda tangan mereka. Begitu melihatnya…hm…saya pikir lebih baik fotonya disimpan saja, dan saya kembali menikmati suaranya.

Penampilan juga bisa menipu. Ada teman yang kalau ngomong lembut, kalem, nyaris bisik-bisik. Tapi kalau mengajar di kelas, tak perlu pakai mic, mengatasi 70 anak ya bisa saja tuh. Atau penyanyi. Waktu diwawancara, suaranya pelan, cenderung cempreng malah. Tapi begitu nyanyi..wow! Bulet! Suaranya ngumpul, eh atau entah apa istilahnya untuk suara yang menyatu.

Suara, memang bisa melambungkan imajinasi kemana-mana. Bahkan, sudah tampil pun, masih saja kita bisa berpendapat, suaranya ngga cocok, atau penampilannya yang ngga cocok. Karena itu untuk film dengan alih suara, penyulis suara atau dubbernya dipilih dengan serius. Apalagi film animasi. Beugh. Pakai proses casting segala. Soalnya gawat aja kalau jenis suaranya ngga pas, intonasi, maun temponya. Ngga asal baca script. Bahkan dari beberapa acara behind the scene, terlihat pengisi suara juga memperagakan gerak tokoh animasi yang diperankannya. Biar lebih menjiwai gitu loh.

Bukan hanya penampilan yang bisa menipu atau mengacaukan imajinasi kita soal suara. Tulisan juga. Eh beneran! Anda bisa tanya pada teman-teman yang pernah menelepon seseorang karena tulisannya. Apa kesannya? Kaget, atau biasa saja? Dari pengalaman mereka, ada yang surprise surprise dengan suara seseorang, ada yang menyamakan dengan suara si anu dan si ani, ada yang biasa aja, ngga peduli.

Nah, bagi saya, suara adalah aset utama. Dulu pas sekolah, dari SD sampai kuliah, kerjaannya ikut paduan suara mewakili sekolah. Lalu selesai kuliah, ealah, dipakai lagi buat ngajar. Jadi wajar dong, kalau sudah mulai berhubungan dengan batuk, saya mesti cepat putus hubungan sama dia *lo – gue – end!* kalau ngga kerepotan. Dulu pernah, karena maksa terus make suara, akhirnya pas menguji sidang skripsi, suara saya habis bis. Cjma bisa bisik-bisik. Untung dosen yang lain pengertian, demikian juga mahasiswa yang saya uji. Dia bersedia mendekat ke meja saya, dan mendengarkan saya membisikkan pertanyaan.

Sebagai seorang ibu, tentu suara berguna sekali, untuk menyanyikan lagu anak-anak kala mereka kecil. Begitu gedean, minta diceritain. Gedean lagi, mulai deh untuk mengingatkan dan menasehati. Itu istilah halusnya. Ketika saya (lagi-lagi) kehabisan suara, anak saya ya g kecil memandang saya dengan wajah polosnya.
‘Mama ngga bisa ngomong ya?’
Saya mengangguk sambil berbisik, ‘Mama lagi sakit.’
‘Kalau gitu,’ katanya lagi, ‘Mama ngga bisa ngomelin aku ya?’
Duh Gusti, ternyata selama ini suara saya cuma dipake buat ngomelin dia…Hiks, makasih ya udah ngingetin…

***
IndriHapsari

Advertisements