Makanan di Air Asia

Rasa-rasanya, Air Asia atau AA adalah penerbangan pertama yang saya pakai, yang menawarkan menu makanan sebelum berangkat. Positioningnya jelas. Harga didiskon hingga 20 persen, dilayani lebih dulu, dan ada free minuman. Pelanggan senang dengan berbagai keuntungan itu, AA senang karena perencanaan makanan yang harus dibawa jadi lebih gampang. Kalau ngga ya kaya pedagang asongan, berharap semoga yang dibawa bisa habis. Kalau ngga ya dibuang.

Dari salah satu tayangan di BBC Knowledge, akhirnya saya tahu bahwa pada ketinggian beberapa ribu kaki, indra pengecap kita berkurang kesensitifannya. Yang terjadi ya masakan di bumi, eh di darat yang menurut kita spicy, begitu disantap di pesawat jadi biasa saja. Tantangannya adalah bagaimana menciptakan rasa yang sesungguhnya, tanpa menambahkan terlalu banyak garam atau terasi (semisal pakai). Akhirnya pada tayangan tersebut masalah bisa diatasi dengan mengganti bahan yang dapat lebih menyerap rasa.

Makanan di pesawat juga harus disajikan hangat. Karena itu selain membawa kompartemen yang bisa menjaga kehangatan penganan di dalamnya, pesawat juga dilengkapi semacam microwave untuk menghangatkan. Pada tayangan yang saya sebutkan di atas, malah mereka punya oven untuk menghangatkan iga domba. Hmm..yummy! Masakan sudah dibumbui dan hanya perlu dihangatkan saja selama berada di ketinggian.

Kemasannyapun didesain khusus. Ada kandungan aluminium foilnya agar tahan air, tahan panas, dan kuat. Setelah selesai tinggal diremas seperti kertas, dan tidak akan ada sebutir nasipun terjatuh. Demikian juga dengan gelas juga tahan panas, bahkan saat minuman mampu membakar lidah (lebay sih, tapi maksudnya suhu yang bikin lidah untuk sementara mati rasa).

Akan halnya menu di AA, termasuk beragam dibanding lainnya. Mungkin juga sudah customized dengan lidah Indonesia, atau Melayu, sehingga kebanyakan cocok-cocok saja. Banyak menu nasi tentu, yang menggantikan menu roti atau kentang. Berbagai pilihan, mulai dari yang spicy, gurih, atau vegetarian tersedia.

20131224-172445.jpg

Kemarin waktu sebelum Natal, ada menu XMas special dari Farah Quinn. Namanya panjang, Chicken Roulade with stuffing and sweet potatoes. Atau rolade ayam pake roti dan ubi. Ayamnya dihancurkan, digulung dengan beef bacon, ada jamur dan creamy sauce. Potongan roti yang empuk, dan ubi, ternyata cocok semua dengan menu ini. Sempat ragu sih, soalnya menurut saya ubi sih enaknya diemil (gembul) tapi ternyata cocok-cocok saja dengan masakan model western begini.

20131224-172403.jpg

Menu recommended lain adalah Uncle Chin’s Chicken Rice, one of the best chicken rice. Lain kali kalau ngga pernah ketemu chicken rice yang bener di Indo, mending beli di pesawat aja. Ayamnya dipangang, nasinya ditanak dengan kaldu ayam. Gurih pokoknya, ngga nyesel belinya.

Lainnya ada Pak Nasser’s Nasi Lemak yang full of lauk, tapi ada pilihan vegenya. Lalu mie goreng, nasi kuning menado, ayam panggang lada hitam, sama roti-rotian. Roti ya ngga lembut, jadi ngga pernah pesan lagi.

Kalau lagi di pesawat gini, jangan ke selera asal dengan beli instan noodle. Rugi. Cibain makanan yang khasnya. Memang lebih mahal, tapi instant noodle sih nunggu aja sampai mendarat. Dengan harga yang sama, bisa dapet empat! Lalu minuman disarankan air mineral saja. Meski penampilan Chatimenya sungguh menggoda.

20131226-063622.jpg

Kue ini complimentary karena kita terbang di malam natal. Hmm…yummy…and Merry Christmas everyone! ^_^

***
IndriHapsari

Advertisements