Cinta yang Memilukan

20131116-065733.jpg

Minggu-minggu ini sepertinya infotainment sibuk dengan berita-berita mengenai cinta yang memilukan. Jika sebelumnya diceritakan tentang indahnya jatuh cinta, menjodohkan para gadis dan jejaka dengan wajah yang rupawan, kini mereka memenuhinya dengan keputusasaan.

Kesan ‘tak ada jalan lain’, ‘apa boleh buat’ dan ‘pokoknya harus begini’ muncul dari ekspresi para selebriti. Mengabaikan rasa orang-orang di sekelilingnya, demi sebuah ego. Presenter dengan bersemangat menceritakannya, wartawan memburu berita, dan pemirsa dipermainkan perasaannya. Ada sedih, geram, marah, hingga menyesalinya.

Betapa bedanya, dulu dan sekarang.

Dulu, yang saya temui adalah para selebriti dengan mata yang berbinar, senyum yang selalu terkembang, dan harapan. Harapan atas kehidupan yang lebih indah, jika kelak bersanding dengan pujaan. Saling memandang mesra, bersentuhan sedikit saja mungkin di depan kamera, dan saling menyemangati. Ah, indahnya jatuh cinta.

Namun sekarang, hanya pertengkaran yang saya saksikan. Semua menuduh, semua meledakkan emosinya di layar kaca. Ada yang berusaha menahan ucapannya meski air mata mengalir terus saat disorot kamera, ada yang mengucapkan kata-kata buruk, pada orang yang pernah menyayanginya.

Mengapa? Mengapa kisah cinta jadi memilukan seperti ini? Dan ketika yang melakukannya adalah orang yang kita kasihi, tentu sakit hatinya setengah mati.

Jika ada perselingkuhan, kenapa itu terjadi? Bukankah mereka pernah saling jatuh cinta? Saling ingin memiliki? Kenapa cinta tak mampu menahan salah satunya, sehingga harus ada hati yang luka?

Jika ada perselisihan paham, kenapa tak membicarakannya sejak awal? Saling menghargai, saling menghormati, karena saling menyayangi.

Kenapa cinta cepat datang, cepat pula pergi?

Apa tidak ingat, dulu pernah ada janji yang diucapkan? Dulu ada rayuan untuk memenangkan hatinya. Dulu ia dipuja sedemikian rupa. Dinantikan dengan cemasnya. Dipeluk begitu hangatnya…

Entah apa penyebabnya. Mungkin ada yang terlalu pengecut untuk mengungkapkan apa yang ia rasa sebenarnya. Takut menyakiti hati pasangan, namun lalu tak bisa mengendalikan diri, hingga makin terperosok dalam godaan atau kekecewaan.

Mungkin ada yang lupa, apa yang telah mereka lalui selama ini, sehingga mendadak amnesia. Melupakan apa yang ada, mengejar yang masih jauh di depan mata. Semuanya karena ketidakpuasan atas kondisi sekarang.

Manusia, memang pencipta kisah memilukan yang paling juara.
***
IndriHapsari
Gambar : pinterest.com

Advertisements