Belajarlah Dari Yang Tua

20130705-192640.jpg

‘Kalau ngga mau tersesat, ikutilah jalan yang besar.’

Sebuah nasehat muncul dari seorang Ibu yang ikut dalam rombongan kami. Ibu yang cukup senior, namun masih mampu jalan-jalan keliling dunia. Sementara saya, terdiam di belakang, sambil mengamati peta di handphone saya, dengan tanda panah biru yang berpendar. Peta itu menunjukkan kami telah melampaui tempat yang kami tuju, tapi ngga ketemu, dan sekarang kami entah ada di mana.

Akhirnya kami ikuti saran Ibu tersebut, dan akhirnya kembali ke jalan yang kami kenal. Mudah, cepat, dan ngga perlu satelit untuk menunjukkannya.

Kadang kita sebagai orang muda, cenderung abai terhadap nasehat-nasehat bijak yang keluar dari para sepuh. Ketinggalan jaman, ngga logis, ngga keren, dan seribu alasan yang membuat kita lebih suka jalan sendiri, cari cari sendiri, mengambil resiko atas nama sebuah tantangan, dan merasa it’s ok kalau kita gagal. Anggap aja pengalaman.

Padahal, dengan mendengarkan mereka yang lebih pengalaman, sebenarnya kita sedang menghemat waktu untuk tidak gagal, dan memanfaatkannya untuk kegiatan lain yang lebih bermanfaat. Misal nih, kita mencoba membuat pesawat telepon sendiri. Kita cobaaaa terus, padahal dengan mengikuti sejarah bagaimana Alexander Graham Bell menciptakan telepon, kita tentu bisa membuatnya dengan lebih cepat, lebih mudah, ngga pake salah. Trus, hasil kreasi kita, ngga malu-maluin. Misal kita teriak ‘Eureka! Aku menemukan telepon!’ orang akan memandang kita dengan kasihan. Kemana aja Mas?

Kita juga suka meremehkan mereka, karena fisik yang sudah tak sempurna. Berjalan lambat, suka cerita, kurang mendengar, kurang melihat. Menghadapinya mesti ekstra sabar, padahal waktu berjalan cepat. Ekstra sopan, ngga boleh cekakakan atau nyengir-nyengir ngga jelas. Mendengarkan dengan seksama, ngga boleh sambil BBMan.

Namun apa yang kita dapat, sungguh ngga bisa tergantikan. Merekalah saksi hidup suatu sejarah. Merekalah yang sudah makan asam garam kehidupan. Merekalah sumber informasi, untuk sesuatu yang tak tertuliskan. Maka apa yang kita pertukarkan, menjadi sangat sangat layak.

Belajarlah menghormati mereka. Bukan karena usianya, tapi karena apa yang mereka bersedia bagi untuk kita, generasi muda.

***
indrihapsari

Advertisements