Bisnis yang Manusiawi

20130529-203013.jpg

Central, Singapura, 08.00 AM

Sambil menunggu suami bersiap, saya mengamat-amati pemandangan di depan hotel. Seorang pria sedang membersihkan jendela Central Shoppng Mall. Nampak biasa meskipun hanya dia sendirian yang berada di trotoar mall tersebut, selain sign board Subway yang mulai menyala. Saya lebih tertarik pada gerakannya. Dia hanya menggunakan tangan kirinya untuk mengusapkan lap di kaca, sementara tangan kanannya menggantung tak berdaya.

Karena strokekah?

Pertanyaan terjawab saat saya melihatnya berjalan menyusuri jendela yang lebar-lebar itu. Rupanya kaki kanannyapun bermasalah, sehingga ia seperti terseok-seok saat berpindah tempat.

Kali lain, di satu foodcourt di atas stasiun Lavender, saya ditegur dengan halus oleh tenaga pembersih. Ia ingin segera mengambil piring yang telah kosong. Saya mempersilahkannya, sambil mengamatinya. Ia sudah cukup berumur, tapi berusaha mengerjakan pekerjaannya dengan cepat. Dengan gerakan yang gesit, tentu menurut ukurannya, ia bergerak dari meja ke meja, menanyakan piring-piring kosong yang bisa diambilnya, kemudian bergerak ke meja yang telah ditinggalkan pembeli, untuk dibersihkan. Jarang sekali saya lihat dia berdiri mematung, apalagi duduk bengong tak mengerjakan apapun.

Di Singapura mereka yang memiliki kekurangan fisik dan sudah sepuh masih boleh bekerja. Bagaimana dengan di Indonesia?

Kalau melihat proporsinya yang mencapai 66% pada tahun 2010, jangankan untuk mereka yang masuk golongan non produktif, untuk yang produktif saja muncul kesulitan menyediakan lowongan pekerjaan untuk mereka. Memang seharusnya yang dikembangkan di negara ini adalah program padat karya, atau industri kreatif, yang banyak memerlukan angkatan muda.

Mungkin tidak, menerapkan apa yang Singapura terapkan untuk Indonesia?

Menurut saya mungkin. Dan kebetulan contohnya ada di depan mata.

Chicco, Surabaya, 10.00 AM

Secara berkala saya berbelanja di satu supermarket yang cukup lengkap dan selalu ramai. Karena sering, saya juga dapat melihat sebagian besar pegawainya. Ada ibu-ibu berkacamata yang nampak cukup senior, sepertinya bagian akunting, sibuk meneliti angka-angka di buku catatannya. Nampaknya dia anti menggunakan komputer. Dengan tekun matanya mengamati pembukuan dalam jarak dekat.

Tokonya sendiri terjaga kebersihannya. Ada dua pemuda bertubuh kecil, dengan gerakan yang tidak gesit dan kadang senyum-senyum sendiri, membersihkan lantai toko tersebut. Mereka tidak berinteraksi dengan pelanggan, hanya fokus pada pekerjaannya saja.

Pagi hari, saya sempat pula melihat, para pemasok jajanan yang akan dijual di supermarket tersebut. Diantarkan menggunakan sepeda atau sepeda motor, nampaknya memang mereka jugalah pembuat jajanan yang selalu diserbu pembeli. Ada bapak-bapak yang jalannya tertatih-tatih, ibu-ibu yang tiap ketemu kaosnya ituuu saja, dan bapak-bapak lagi yang rambutnya sudah memutih semua, namun cukup kuat untuk membawa sekontainer kue-kue yang siap untuk dijual.

Dalam mata kuliah yang saya berikan, kebanyakan berhubungan dengan mekanisasi dan komputerisasi. Konsep yang ada, mechanized and computerized will make the work better. Namun selalu saya tekankan, bagaimanapun manusia yang harus memegang kendalinya, meskipun makin sedikit manusia yang terlibat di dalamnya. Business must be more humanized.

Bisnis tentulah untuk mendapatkan keuntungan. Tetapi berbagi rejeki dengan mereka yang membutuhkan, memberi harapan pada yang berkekurangan, tentu menjadi bisnis yang lebih menjanjikan. Karena ternyata kekurangan bukan halangan untuk menunjukkan peran.
***
20130528-040221.jpg
pinterest.com

Advertisements