I Miss You Already

‘Tugasku sudah selesai.’

‘Jangan berkata begitu…’

‘Ia mengatakannya padaku.’

‘Tidak! Belum! Kau belum melihat si sulung lulus SMA. Kau belum mendengar si bungsu menang Olimpiade Fisika. Belum. Sama sekali belum!’

‘Aku akan memperhatikan semuanya. Jangan khawatir.’

‘Kemarin, bos memberitahuku aku akan mendapat promosi. Kau harus mendampingi!’

‘Aku ikut bahagia untukmu..’

‘Jangan begitu! Kau belum selesai!…Jangan…tinggalkan aku…’

‘Cobalah melepas. Aku hanya ciptaanNya. Ia yang membuatku. Ia yang menjodohkan aku denganmu. Ia juga yang berhak mengambilku kembali.’

‘Kenapa Ia tega…’

‘Tidak. Ada maksud yang indah di balik semua ini. Kita yang belum tahu apa.’

‘Aku belum selesai membahagiakanmu.’

‘Sudah cukup. Aku bahagia menjadi istrimu.’

‘Aku..tak pernah punya cukup waktu untukmu. Kadang saat ku pulang malam, dan melihatmu tertidur menungguku, aku merasa..apa saja yang sudah kulewatkan darimu. Aku janji, jika kau tak jadi pergi, aku akan lewatkan semua hari, bersamamu. Harta, jika dikejar, tak ada habisnya. Namun waktumu, dan waktuku, siapa yang tahu.’

‘Aku tahu. Tapi waktuku sudah habis.’

‘Jangan!’

‘Selain keberadaanku, semua akan sama. Aku akan mendoakanmu dan anak-anak. Aku akan memperhatikan kalian. Semua yang kulakukan selama ini. Akan sama.’

‘Anak-anak akan mencarimu..’

‘Mereka tahu, Ibunya akan tetap ada untuk mereka.’

‘Aku akan mencarimu…’

‘Pada awalnya begitu..’

‘Tidak! Aku akan selalu mendambamu!’

‘Terima kasih. Namun semoga kesibukanmu, anak-anak kita, akan membuatmu memikirkan hal lain. Tenang saja, tempatku menuju bukanlah tempat yang buruk. Segala penderitaan karena penyakit dan pengobatannya, akan hilang. Rasa bersalahku karena telah merepotkanmu, akan sirna. Beban padamu dan anak-anak, akan menghilang.’

‘Aku bersedia untuk melakukan apapun, asal kau tetap di sini. Berikan sakitmu padaku!’

‘Dan kau tahu, itulah yang dulu membuatku berat untuk meninggalkanmu. Tapi ini sudah jalanku.’

‘Relakan. Aku akan baik-baik saja. Seperti aku yakin, kelak kau akan baik-baik saja.’

‘Jaga anak-anak ya. Mereka perlu Ayah yang tegar. ‘

‘…I miss you..already…’

‘I miss you too.’

Perlahan genggaman tangannya mulai renggang. Dengan senyuman tersungging di bibirnya, aku merasakan rohnya mulai menghilang. Duduk terdiam sambil mengamati, kini tak ada lagi yang mengajakku bicara dari hati.

20130329-012444.jpg
***

Sumber gambar : pinterest.com

Advertisements