Mie Instan, Cinta Tapi Benci

20130312-045516.jpg

Saya yakin, pertanyaan yang seharusnya diajukan pada sekelompok orang adalah,
‘Siapa yang BELUM pernah makan mie instan?’
agar kita tidak kesulitan menghitungnya. Berapapun jumlah orangnya, pasti yang belum pernah mengonsumsinya hanya ada sedikit.

Mie instan dicintai karena harganya yang terjangkau, penyajiannya yang praktis, rasanya yang lezat dan mudah dibeli dari warung hingga hypermarket sekalipun. Namun mie instan juga dibenci terkait tuduhan yang ditujukan padanya, bahwa mie instan merupakan penyebab kanker dan penyakit parah lainnya. Jika Anda googling ‘bahaya mie instan’ banyak sekali penjelasan tentang akibat buruk yang ditimbulkan, jika kita mengonsumsinya secara berlebihan.

Kebetulan tempo hari kami berkesempatan mengunjungi pabrik mie instan terbesar di Indonesia, yang berlokasi di daerah Gempol, Pasuruan. Produknya terdiri dari beberapa merk mie instan, yang tersebar di pelosok Indonesia dan dikirimkan ke manca negara. Varian rasanya sangat banyak, terdapat 45 varian rasa yang sudah dipatenkan.

Proses produksi mie instan dimulai dengan pengadukan adonan yang berbahan dasar tepung, pembentukan mie, pengeritingan, pemotongan sesuai berat yang tertera pada kemasan, pengukusan, penggorengan, pendinginan, dan pengemasan setelah masing-masing diberi pelengkap seperti bumbu, sambal dan kecap.

Acara tanya jawab berlangsung cukup seru, karena mungkin cinta tapi benci tadi. Ingin mengonsumsinya, namun takut dengan akibatnya. Beruntung Manajer Safety and Health pabrik tersebut dapat menjawabnya dengan baik, sehingga kabar yang beredar di masyarakat dapat diluruskan. Semua jawaban Beliau hanya terkait dengan produk yang mereka hasilkan, bukan mie instan secara general. Karena itu ketika ada berita yang menjelek-jelekkan mie instan, tak ada yang bisa mereka lakukan karena berita-berita tersebut tidak menyebutkan merk.

Berikut pertanyaan-pertanyaan yang kami ajukan:

Mie instan mengandung lilin.
Saat direbus, kok keluar buih-buihnya dan air berubah menjadi keruh. Karena itu ada saran untuk membuang air rebusan pertama untuk membuang kandungan lilin.

Mie instan tidak mengandung lilin, apalagi formalin. Hal tersebut didukung dengan masa expired date yang hanya 8 bulan, bukan tahunan. Sedangkan buih yang keluar tersebut, adalah protein tingkat tinggi pada bahan mie instan, yang berpindah ke air. Jika ada lilin, maka proses tersebut akan sulit terjadi. Sedangkan gelembung yang muncul pada air rebusan adalah minyak yang digunakan saat menggoreng mie. Mie harus digoreng dulu untuk meningkatkan daya tahannya. Minyak goreng yang digunakan adalah free fatic acid (ffa) dengan asam lemak yang rendah.

Melihat prosesnya, mestinya mie instan sudah matang dan aman untuk dikonsumsi. Namun disarankan untuk merebusnya lagi agar lebih higienis. Adonan mie telah diperkaya dengan mineral, sehingga jika air rebusan dibuang, kandungan nutrisi juga terbuang.

Bumbu mie instan berbahaya.
Mengandung pengawet, penguat rasa, dan penyebab kanker.

Sebenarnya semua makanan dalam kemasan, mengandung pengawet dan penguat rasa. Bahkan jika kita enggan menggunakan bumbu mie instan dan menggantinya dengan saus dan kecap botolan, kedua produk inipun juga mengandung zat yang sama.

Yang perlu dipastikan adalah zat apa yang digunakan, dan apakah sesuai dengan standar kesehatan. Untuk produk ini, mereka menggunakan zat yang sudah diijinkan oleh BPOM, halal, dan ukurannya disesuaikan dengan standar WHO. Karena itu produknya sudah dilengkapi dengan berbagai sertifikasi.

Pengawet diperlukan agar bumbu lebih tahan lama, sedangkan penguat rasa untuk kelezatan pada saat menyantapnya. Saran yang diberikan adalah jika bumbu mengalami perubahan warna atau basah, sebaiknya jangan dikonsumsi. Namun jika menggumpal dan kering, masih aman untuk dikonsumsi. Bumbu sebaiknya tidak ikut direbus bersama mie, karena bumbu sendiri mengandung vitamin yang dapat rusak jika direbus.

Mengenai kanker, secara persentase penderita kanker yang dikaitkan dengan konsumsi mie instan sangat sedikit, jika dibandingkan dengan seluruh orang yang mengonsumsinya. Selain itu, sebenarnya perlu diteliti juga mengenai gaya hidup dan paparan polusi yang diterima penderita, karena semuanya itu bisa menjadi penyebab kanker.

Namun tentu saja semua yang berlebihan itu tidak baik. Berdasarkan keterangan dari dosen Fakultas Farmasi, zat pengawet atau nipagin yang digunakan aman dikonsumsi pada kisaran 10 mg/kg berat badan manusia. Jadi jika seseorang memiliki berat 50 kg, batasan maksimum konsumsi nipagin adalah 500 mg per hari. Jika dalam satu kemasan mie instan mengandung 100 mg, maka batas aman konsumsinya adalah 5 bungkus per hari. Namun dalam jangka panjang, konsumsi nipagin dengan kadar melebihi batas maksimum dapat menimbulkan penyakit, antara lain hipersensitivitas (alergi), urtikaria, bronkospasme, dermatitis, dan kanker payudara.

Kenapa tempo hari ada penolakan terhadap mie tersebut di Taiwan?

Taiwan mengklaim mie instan mengandung bahan pengawet berbahaya yaitu nipagin (p-metil hidroksibenzoat) yang dilarang pemakaiannya di negara tersebut. Di Taiwan, pengawet makanan yang dipakai adalah etil hidroksi benzoat.

Sebenarnya kedua bahan ini aman dipakai sebagai pengawet dalam makanan, hanya perbedaannya terletak pada kemampuan penetrasinya. Selain itu kedua bahan ini juga sudah diakui WHO mengenai keamanannya untuk ditambahkan pada makanan, dan sudah disesuaikan dengan standar internasional. Produk yang diekspor ke manca negara, selain soal rasa, juga sudah disesuaikan kadar zat yang dikandungnya agar dapat masuk ke negara tersebut.

Pabrik ini memandang pelarangan tersebut terkait dengan persaingan usaha. Tak dipungkiri, produk mie Indonesia ini menjadi makanan yang populer, bahkan di Nigeria saking populernya bisa menjadi makanan pokok. Produk lain menjadi tersaingi, dan muncullah pelarangan tadi.

Semoga informasi ini bisa bermanfaat. Kalau saya sendiri sih prinsipnya,
‘Kalau cinta jangan terlalu, kalau benci jangan terlalu.’
Maksudnya, jangan cinta banget sampai mengonsumsinya berlebihan, bagi saya mengonsumsinya tiap hari itu berlebihan. Lebih baik memilih makanan yang tidak instan. Namun juga jangan terlalu benci, sehingga mempercayai begitu saja berita yang belum tentu kebenarannya. Dicek dulu, sebelum menyebarkannya kemana-mana.

***
sumber gambar : dunia-sang-maya.blogspot.com

Advertisements