Connecting and Fighting Community

    Terlalu banyak kepentingan

20130220-192823.jpg

Adaaa aja ya, orang yang eksis karena konflik. Jadi semisal ada konflik apa, eh dia nongol! Entah dengan mendukung salah satu, ngompor-ngomporin, atau menyebarkan berita hoax. Seenaknya aja ambil kutipan sana sini, minjem nama orang sembarangan untuk mendukung idenya, atau muncul dengan pendapatnya sendiri, yang bukan ngademin, malah nambah rame.

Oportunis, dan bukan pembawa damai.

Dan bila orang-orang jenis ini berkumpul, hanya ada keributan yang terjadi. Meskipun mereka sependapat, karena maunya muncul sendiri, ya mana mau lah ngalah. Yang ada saling gencar-gencaran memojokkan, padahal idenya sama lo!
Heran…

Bagai pahlawan kesiangan, mereka biasanya beramai-ramai membela salah satu pihak, yang belum jelas juga benar apa salah, yang penting ramai duluan! Kenapa sih, ngga cek dan ricek dulu, sebelum nyolot ini itu, komen macam-macam yang bikin panas suasana,apalagi sampe menggerakan massa. Nah, coba kalau pihak yang dibela, meminta dukungan nyata, masih berani? Pengorbanan itu, memberi sampai terasa sakit lo. Bisa ngga? Atau saat pihak yang dibela terbukti salah, masih berani ngga nunjukin mental ‘noon hero’ itu di depan khalayak?

Maksudnya gini loh, ngga usah sok solider deh! Urusin dulu hidup kita sendiri, udah bener ngga? Sebelum memaksa orang lain untuk ngikutin ‘bener-ala-saya’. Trus semisal ada yang ngga bela, ya jangan buru-buru mencap orang itu ngga setia kawan. Jangan-jangan malahan orang itu lebih pintar, mikir masalah pake otaknya, ngga pake ototnya untuk berantem.

Ada juga yang ‘pokonya beda’ atau ‘ngga beda, ngga rame!’. Ngga peduli siang ada matahari atau malam ada bulan, realita dia bolak balik senaknya. Sehingga bulan di siang, matahari di malam. Ngawur banget ngga tuh…itu sih kepalanya yang mesti diformat, daripada nyalahin orang kenapa beda dengan dirinya.

Belum lagi ada aja orang yang memanfaatkan keributan yang terjadi untuk kepentingan pribadi atau kelompok. Yah, seperti kita membuka pintu lebar-lebar,saat orang tua bertengkar. Tujuannya? Ya untuk mendapatkan perhatian, untuk mendapatkan hal yang tidak kita akan dapatkan kalau ngga memanfaatkan konflik yang ada. Malu karena itu orang tua kita, yang sedang kita pertontonkan aibnya pada dunia? Wah, itu sih entah prioritas ke berapa. Keluarga sih keluarga, bisnis jalan terus!

Maka ketika hal itu terjadi di sebuah komunitas, jadinya memuakkan. Eksis di atas konflik kok berjamaah, ikut arus, ngga punya pendapat sendiri yang mungkin bertentangan dengan mainstream. Buat orang lain yang ngga ikut konflik di sekitarnya jadi ngga enak juga ya, seakan menyaksikan orang berantem setiap harinya. Tadinya mau make a friend, kok malah diajak masuk pertempuran.

So, let me for a while, step aside, for contemplating, is this the way that I’m searching for?

Advertisements