Berpikir dan Bertindak Besar

20121226-053744.jpg

Satu diskusi yang sudah lama terjadi, tapi tetap mengusik pikiran saya adalah tentang berpikir dan bertindak besar. Awalnya adalah dari pertanyaan dari seorang rekan, perusahaannya itu perusahaan besar atau bukan? Saya jawab, besar. Karena namanya sudah terkenal, asetnya tersebar, sumber dayanya juga ngga main-main. Lalu dia mempertanyakan, “Kalau begitu, kenapa setiap kita dinas luar, uang dinasnya hanya cukup untuk menginap di hotel melati, atau losmen? Kesan apa yang mau ditanamkan ke pihak stakeholder kalau mereka tanya, ‘Bapak menginap dimana?’. Katanya perusahaan besar, tapi kelakuannya…” kata dia sambil menggelengkan kepala.

Saya tidak bisa menjawabnya. Kadang atas nama efisiensi, perusahaan besar memang tega memotong anggaran ini itu, termasuk mengorbankan image yang ditanamkan di pihak stakeholdernya.

Sebagai contoh, sebagai konsumen hotel, miris saja kalau ada hotel yang bangunan dan interiornya begitu megah dan mewah, memberikan toiletries yang ngga beda dengan hotel minimalis. Saya tahu isi sabun mandi, shampoo, conditioner dan lotion biasanya dipesan dari supplier yang sama, kemudian yang membedakan adalah kemasan. Kalau hotel mewah dikemas secara satuan dan eksklusif, hotel minimalis memlih memasukkannya dalam dispenser yang dilekatkan di dinding kamar mandi. Tapi isinya sama, kualitasnya sama. Lalu image seperti apa yang mau ditanamkan hotel mewah tersebut? Bahwa konsumen sudah membayar mahal untuk fasilitasnya, tapi dia membalas dengan penghematan yang mengacaukan image yang susah payah ia tanamkan, dan investasikan begitu rupa? Efisiensi yang salah sasaran.

Apa berkaitan dengan image saja? Tidak juga, ada yang tidak peduli image. Sebagai contoh seorang pejabat yang dimanjakan dengan fasilitas dari perusahaannya, ternyata tetap minta jatah kalau ada tender. Tetap minta budgetnya dimark up kalau sedang penyusunan anggaran. Liburan ke luar negeri tetap minta dibayari supplier. Padahal dia sanggup membayar itu semua sendiri, tanpa perlu korupsi. Penggede, tapi otaknya kere. Isinya kuraaaang terus, sehingga maunya mintaaaa terus.

Sebaliknya, ada mereka yang kemampuannya kecil, tapi punya pikiran dan tindakan besar. Contoh mereka yang bergerak atas nama pribadi, menggunakan garasinya untuk mengajar membaca anak jalanan. Pikirnya, saya gunakan apa yang saya punya, untuk berusaha memperbaiki nasib mereka. Memperbaiki nasib! Apa bukan tindakan besar itu namanya? Tentu perlu pengelolaan yang baik jika si kecil ingin memiliki daya tahan yang tinggi.

Tapi hati-hati, ada pula yang pikirannya besar, tapi tindakannya kecil. Yang ini tipe omdo, alias omong doang. Koar-koar kemana – mana ‘I want to do this..I want to do that’ tapi tidak melakukan apa – apa. Entah bingung langkahnya harus bagaimana (padahal sudah terlanjur promosi sana sini) atau menunggu orang lain melakukannya. Nanti, kalau sudah berhasil, tinggal bilang ‘I’ve told ya! It’s my idea!’.

Berpikir besar, bukan berarti di awang-awang. Jawablah dengan tetap menjaga martabat dan tindakan besar.
.
Sumber gambar : a2zcolours.com.au

Komen? Silakan^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s