Mempelajari Tiada

20121225-050805.jpg

‘Aku ingin mempelajari tiada, Bu’

Ibu tertegun. ‘Untuk apa, anakku?’

‘Aku ingin menghadapi tiada, Bu. Karena menghindarinya tidaklah mungkin’

‘Kenapa hal itu sangat mencemaskanmu?’ Ibu menatapku lembut.

‘Aku ingin sekuat Ibu’ kataku lemah. ‘Bintangnya sudah tidak terlihat, Bu. Tak ada penunjuk arah’

Ibu membelai lembut rambutku. ‘Apa yang kau rasakan?’

‘Bingung, Bu. Biasanya ada, kini tiada. Kadang ku lupa, dan tetap kucari dia di atas sana. Tapi berulang kali ku kecewa. Dia tak ada.’ kataku sambil berurai air mata.

‘Itu namanya penyangkalan, anakku. Menganggap ada yang telah tiada’

‘Bu, bagaimana aku menghadapinya?’ Aku berusaha tak menangis di depan Ibu, tapi tak bisa.

‘Tak ada yang bisa kau lakukan. Waktu akan menyembuhkanmu. Menyadarkanmu tentang ketiadaan. Setelah berhenti menyangkal, rasa marah akan melandamu’

Aku segera menghentikan tangisku. ‘Benar, Bu! Aku punya banyak pertanyaan untuknya, kenapa ia seenaknya saja menghilang, tanpa pesan! Aku masih membutuhkannya Bu, dan ia tega melakukannya!’ kataku berapi-api.

Ibu menggenggam tanganku. ‘ Marahlah sekarang. Ungkapkan. Dengan begitu beban perasaanmu akan berangsur menghilang.’

‘Ah, Bu. Andai aku tak pernah mengenalnya,..mungkin saat ini akan lebih mudah bagiku. Andai ia tak pernah ada untukku, Ibu’ mataku menerawang ke langit. Tetap kosong. ‘Ibu, dapatkah kita mengulang waktu?’

‘Tidak perlu menyesal. Hal-hal seperti itu yang mewarnai hidupmu. Kau tak pernah minta dia ada. Sehingga saat dia tiada, tak perlu terlalu menyesalinya. Semua itu ada siklusnya, anakku. Dari tiada, menjadi ada, kelak akan menjadi tiada’

Aku tercenung. ‘Ibu, apakah tidak mungkin, dia menjadi ada…. lagi?’ harapku.

Ibu tersenyum. ‘Jangan melawan alam, anakku. Tak ada yang bisa diubah, semua tergantung dari cara kita menghadapinya. Ikuti saja prosesnya. Bahwa ada penyangkalan, kemarahan, pengandaian, kesedihan, dan penerimaan. Ibu telah melalui proses itu, berkali-kali dalam hidup Ibu. Dan sekarang, kau dan bintangmu’ Ibu mengelus pipiku lembut.

‘Ibuuuu…’ tak kuasa ku menahan tangisku, sambil memeluknya.

Ibu mengusap punggungku. ‘Menangislah, anakku. Tetesan air mata, semoga dapat mengeluarkan sedihmu. Kalau sudah selesai,’ Ibu mendorong bahuku lembut, ‘Lihat ke atas, ya’ katanya sambil tersenyum.

Aku mengusap air mataku. Dengan keheranan ku menengadah.

Liukan pita hijau mewarnai langit yang semula hitam. Gradasi warnanya bergerak lembut, menyambung dari ujung utara ke selatan. Pitanya menari. Aurora borealis. Sang cahaya dari utara.

20121225-050705.jpg

‘Kugantikan bintangmu‘ bisik Ibu.

2 comments

Komen? Silakan^^

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s