Ibu Menteri harus menghadap Bapak Presiden pagi ini Bu. Mohon untuk dapat menggantikannya.
SMS dari ajudan Ibu Menteri pagi ini cukup mengagetkanku. Awalnya Ibu Menteri yang akan membuka acara, sementara aku di Kementerian akan menerima tamu yang sudah dijadwalkan kunjungannya. Namun sebagai staf ahli, tentu saja hal ini bukan hal baru bagiku, kapanpun harus siap membantu Beliau, terutama saat ada acara penting seperti ini. Berarti acara di Kementerian biarlah sekretarisku yang menangani.
Awalnya aku akan mengenakan setelan ini, berwarna gelap dengan potongan sederhana. Namun karena harus membuka acara, ditambah para wartawan yang nanti akan mewawancara, rasanya aku harus berganti rencana. Dress warna merah, dari kain songket tentu cukup menarik perhatian, dan kelihatan cerah dipandang. Ah ya, itu saja! Dipadu dengan sepatu tertutup warna merah, dan envelope bag warna emas, tentu menjadi penampilan yang chic untuk pagi ini.
Dimana ya ku simpan? Dress itu agak lama tak kupakai. Aku menebak di pintu lemari keberapa kusimpan dress itu. Mm..mungkin yang ini. Pintu lemari yang paling jarang kukunjungi. Saat kubuka, ternyata hanya satu baju di sana. Kemeja putih bergaris biru.
Kok…masih di sini?
Tanganku bergerak mengambilnya. Kemeja itu tergantung lemas pada hangernya. Garis birunya mulai pudar, tapi bayangan tentangmu tak jua samar.
Kamu yang selalu gagah tiap memakainya. Kemeja lengan panjang yang kau gulung sampai siku. Di kantor kau akan mengenakan dasi andalanmu, tapi kau lepas saat mencegatku keluar dari pintu.
‘Bareng ya?’ katamu sambil tersenyum. Bekas cukuranmu terkadang sangat menggoda untuk diraba. Kulitmu yang bersih terlihat segar saat disinari mentari senja. Sungguh pemandangan yang menyenangkan setelah seharian bekerja.
Aku hanya tersenyum malu. Kau dengan postman bagmu berdiri di tengah pintu. Menghalangi jalanku. Tapi tentu saja tak ku anggap mengganggu. Sejujurnya saat itu aku sudah mau, tapi tentu saja tak boleh secepat itu.
Ah ya, tapi toh sebulan kemudian kita jadian. Sempat heboh juga karena kita sama-sama staff kementerian meskipun beda lantai. Kau lebih banyak mengurusi jaringan, sementara aku lebih banyak mengurusi protokoler. Meskipun berbeda, namun toh kita kompak juga. Dan selalu kau yang kutunggu, pria tampan dengan kemeja garis biru.
Tak menunggu lama, akhirnya kita menikah juga. Seluruh temanku, yang juga temanmu, diundang semua. Termasuk juga Ibu Menteri. Masih ingat ngga doanya saat kita berfoto bersama di pelaminan? ‘Semoga langgeng ya, karena kali ini kalian bakal ketemu setiap waktu.’ Saat itu kita cuma tertawa. Iya, bener juga ya. Dulu ketemu cuma di kantor, sekarang di rumahpun ketemu wajah yang sama. Mengasyikkan!
Setelah hidup bersama dengamu, menurutku kau memang paling ganteng jika menggunakan kemeja itu. Entah ya, ada aura tampan yang keluar dari ragamu. Ada rasa bangga saat kau mengenakannya. Ah ya, tentu saja bajumu bukan hanya itu. Dan kemeja ini bukanlah yang pertama bagimu. Tapi selalu kusempatkan membeli kemeja yang persis sama, saat kumembeli perlengkapanmu.
Namun setahun kemudian semua itu berubah. Kau mulai marah-marah padaku, mempersoalkan kesibukanku. Memang, karirku sedang bagus-bagusnya, diajak menemani Ibu Menteri kemana-mana. Sikapku yang cekatan dan tegas, membuatku disukainya. Akibatnya, waktuku banyak tersita untuk melakukan pekerjaan kantor, yang seakan tak ada habisnya.
Dan disanalah kamu, sang pangeran dengan kemeja garis biru, terpekur menungguku pulang. Meneleponku sambil marah-marah, hanya untuk masalah-masalah sepele. Hei, aku juga capek ke sana kemari, dan kau hanya meneleponku untuk hal-hal yang tak penting seperti ini? Maka meledaklah marahku, sudah tak bilang sayang, gerutumu yang selalu kudengar.
Lalu merembetlah ke hal-hal lainnya. Kau mempersoalkan kenapa aku belum juga hamil dan mengaitkannya dengan kesibukanku. Kau mempermasalahkan rasa engganku saat melayanimu. Ah, andaikan kau bersikap tak menyebalkan seperti itu, tentu kunikmati saat bermesraan denganmu. Namun tidak, kau lebih suka menyambutku dengan acuh, dan memaksaku melakukannya. Hei, dimana rayuanmu yang dulu?
Maka ketika kau marah besar karena ku tak pulang berhari-hari dari luar negeri, saat ku tiba di rumah inilah yang kudapati, lemarimu kosong tak ada isi. Kemeja ini, mungkin ada di laundry sehingga tak sempat kau bawa pergi. Masih marah hingga bulan ini. Masih kutemui kau saat berpapasan di kantor, tapi kau hanya membuang muka tak mau menyapa, atau menghindar untuk berjumpa. Ah, kalau kau tahu ku rindu kau sedemikian rupa…
Kuhirup dalam-dalam kemeja yang berada di tanganku. Tak ada bau kamu, bau yang kurindukan setiap waktu. Saat kubuka kemejamu dengan buru-buru. Saat kemejanya, sekaligus pemakainya, melingkupiku dengan pelukannya yang hangat.
‘Bu..’ ketukan mbak Darmi membuyarkan lamunanku. Segera kuhapus air mataku. ‘Yaaa..kenapa mbak?’ jawabku pelan.
‘Pak Jono sudah datang, Bu. Pakai mobil yang mana?’ Aku terdiam, masih memegang kemeja itu.
‘Mbak Darmi,’ kataku sambil membuka pintu. ‘Kasih kemeja ini ke Pak Jono. Bilang, dari Ibu.’
Cukup sudah, kenangan tentangmu. Hidupku punya prioritas, dan kali ini bukan kamu.
***