Sastrainment #4: Joko Pinurbo dan Tahilalat

Joko Pinurbo (Jokpin), kali ini menjadi pemenang karya sastra pilihan Majalah Tempo tahun 2012. Juri terdiri dari jajaran redaksi Tempo yang biasa berkecimpung dalam peliputan dan penyuntingan tulisan seni, ditambah pengamat dari luar yang terdiri dari sastrawan dan pengajar sastra.

Karya Jokpin berupa buku kumpulan puisi Tahilalat, harus bersaing dengan novel Amba karya Laksmi Pamuntjak. Membandingkan novel dan puisi tentu bukan hal yang mudah. Namun akhirnya para juri sepakat karya Jokpin mengusung permainan imaji yang mampu membawa penikmatnya ke sesuatu yang tak terduga, terutama untuk sajak panjangnya. Kemudian Jokpin dinilai makin mampu mengeksplorasi waktu, dengan elemen waktu yang maju mundur. Kesederhanaan dan ekonomi kata-katanya menciptakan ironi dan humor semakin dalam. Menurut Melani Budianta, guru besar Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI yang menjadi salah satu juri, keistimewaan puisi-puisi karya Jokpin adalah memadukan aspek seksualitas, sensualitas, banyak dimensi, hubungan dengan ibu dan ayah yang digarap dengan apik, dengan bahasa yang tidak pretensius.

20130108-062316.jpg

Namun kritik juga dilayangkan padanya, karena sajak-sajak super pendeknya, yang akan muncul dalam buku kumpulan puisi dengan judul Puitwit, tidak menyampaikan apa-apa yang berarti pada pembaca. Pelintiran kata-katanya hanya jatuh pada kegenitan belaka.

Jokpin sendiri sudah memikat pembaca sejak tahun 1999, saat terbitnya buku kumpulan puisi Celana, yang mendapat Hadiah Sastra Lontar 2001. Penghargaan-penghargaan berikutnya ia dapatkan, sebagai bukti kemampuannya mempertahankan kekuatan puitiknya yang khas.

Dalam pengakuannya, Jokpin tidak suka mengangkat tema yang berat, namun yang umum dengan pendekatan metafor yang baru. Jokpin juga mengembangkan sudut pandang ‘dia’ dan ‘aku’ yang sangat peka akan waktu dan generasi.

Tahilalat merupakan narasi besar hubungan manusia dalam keluarga, yang bisa digunakan juga pada hubungan individu dengan Tuhan, negara, dan lainnya. Berisi ‘hanya’ 55 puisi, Jokpin membutuhkan waktu 5 tahun untuk menyelesaikannya. Kadang dalam sehari ia hanya mendapatkan satu baris puisi. Kemudian kala mengalami kebuntuan, maka ia akan mengeksplorasi puisi yang lain dulu.

Jokpin juga berusaha meninggalkan ikon ‘celana’ yang selama ini melekat padanya. Ia berpendapat jika seorang penyair sudah terlanjur dicap dengan gaya tertentu, sebenarnya dia sudah mati, dan itu yang berusaha ia hindari. Jokpin sendiri banyak meramu puisi-puisi pendek yang sangat menguras otak, karena ‘keblinger sedikit, bubar’.

Jokpin tidak pelit, semua puisinya bisa diakses lewat blognya. Saya juga tidak pelit^^, karena itu berikut satu puisinya yang ada dalam buku tersebut.

Asu

Di jalan kecil menuju kuburan Ayah di atas bukit
saya berpapasan dengan anjing besar
yang melaju dari arah yang saya tuju.
Matanya merah; tatapannya yang kidal
membuat saya mundur beberapa jengkal.
.
Gawat. Sebulan terakhir ini sudah banyak orang
menjadi korban gigit anjing gila.
Mereka diserang demam berkepanjangan,
bahkan ada yang sampai kesurupan.
.
Di saat yang membahayakan itu saya teringat Ayah.
Dulu saya sering menemani Ayah menulis.
Sesekali Ayah terlihat kesal, memukul-mukul
mesin ketiknya dan mengumpat, “Asu!”
Kali lain, saat menemukan puisi bagus di koran,
Ayah tersenyum senang dan berseru, “Asu!”
Saat bertemu temannya di jalan,
Ayah dan temannya dengan tangkas bertukar asu.
.
Pernah saya bertanya, “Asu itu apa, Yah?”
“Asu itu anjing yang baik hati,” jawab Ayah.
Kemudian ganti saya ditanya,
“Coba, menurut kamu, asu itu apa?”
“Asu itu anjing yang suka minum susu,” jawab saya.
.
Sementara saya melangkah mundur,
anjing itu maju terus dengan nyalang.
Demi Ayah, saya ucapkan salam, “Selamat sore, asu.”
Ia kaget. Saya ulangi salam saya, “Selamat sore, su!”
Anjing itu pun minggir, menyilakan saya lanjut jalan.
Dari belakang sana terdengar teriakan,
“Tolong, tolong…! Anjing, anjing…!”
.
(2011)
Joko Pinurbo

Referensi :
Majalah Tempo, 7-13 Januari 2013
jokopinurbo.blogspot.com
Sumber gambar: goodreads.com